"BARAH"


Title:  Kaki Tangan
            Year:  2014
            Medium:  Akrilik diatas Kanvas
            Size: 107 cm x 107 cm
            Image Credit: Aisyah Baharuddin

Sketsa Kaki Tangan


Dipercayai  tubuh manusia berkait rapat dengan semangat dan jiwa secara fizik. Kesempurnaan tubuh merupakan perlambangan keagungan  yang menunjukkan sifat ketuhanan.  Di antaraya  ialah, tangan dan kaki yang  merupakan anggota  penting  dalam pergerakan dan juga membawa maksud tertentu, seperti bahagian  kiri, kanan, dan kaki yang yang berpijak  mewakili keseimbangan.

Manusia di lahirkan telanjang, dan telanjang adalah simbol kepada ketulenan dan kebebasan. Tetapi,  manusia  juga berkongsi perkara yang sama dengan  haiwan iaitu keinginan berahi dan bernafsu.  Hal ini berkait rapat dengan tubuh perempuan  dan mereka  menjadi mangsa utama.   terutamanya dalam agama  dan budaya, contohnya bagaimana budaya  Arab yang telah banyak mencemar dan membunuh  budaya lain serta menular dengan ekstrim menglibatkan perempuan.

Dalam konteks  perempuan  Melayu Islam di  Malaysia hari ini, budaya Arab secara perlahan-lahan menggantikan  budaya mereka tanpa sedar. Rasa malu, asing dengan budaya dan adat sendiri sehingga budaya dijajah tanpa disedari dan kita masih terpedaya atas nama agama.

PERFORMANCE INSTALLATON

Duration :15-20 minutes
Material: Fruits/ vegetables (Loofah), seeds, baskets, strings, plates/tray and weighing.

People are no longer in the outdated eras of Colonialism and the Cold War.  We are under a new dress of battle called ‘war on terror’. (Religious and ethnic conflicts).Religious violence has increasing since 9/11, and we became synonyms with terrorism.

Religion itself is not the cause of the violence and conflict. However, we must face the sad reality that religious identity is too often get politicized and manipulated by powerful groups and individuals to promote political ambitions and the pursuit and maintenance of  power and domination.
The people forget that our enemy is military threats from global powers and economic exploitation, has widened the gap between the rich and the poor, which in turn intensifies social conflict. The increasing prevalence of violence in our world underlines the importance of cooperation across religious lines. This refers not only to communal violence, but also to everyday violence toward those sectors of society least able to defend themselves - women, children, the poor, and ethnic, linguistic, and religious minorities.

All religions teach peace, justice, compassion for those who suffer, equality, love, human dignity and solidarity, non-violence, sensitivity to others  and we are all believe that humanity and nature are interdependent. In this situation, we must humbly acknowledge that our own communities have often failed to be agents of peace and to live according to our shared values.

‘BARAH’ is referring to ‘Cancer Religion’, is not a new disease and it has always been dangerous and it gets more dangerous! Its most potent strategy of invasion is through indoctrination.
The setting is about twenty of dried and fresh loofah, will be install in the tray/plate and the artist will do interactive performance with audience to peel off the skin of this fruit.

Lofaah is a metaphor of the human bodies that are infected with cancer, comes in different shapes and sizes, but from the same roots and on the other hand, this fruit also traditionally can be used for treats cancer.
Photo credit: FERGANA ART space

“It’s not easy to learn to deal with freedom”





‘’ Does she attend to take a basics structure of her life – what she eats, how she cares for her body, how she treats her pets and  plants? Is she brave enough to raise her own kids without worrying that she’s not an expert? Are her friends a mixed? Are they mixture of young and old, three religions and five philosophies, hippies and yuppies? Once you find this person, try to hang around and notice how she think, talk and things out. She might tend not to blow labels on people”.
The generalist!



Pregnancy, birthing, parenting, and teaching.

Early in Human development, our species evolve sexuality independent of estrus.
(ESTRUS means, a regular recurrent state of sexual excitability during which the female of most mammals will accept the male and is capable of conceiving.)

Other animals experience chemical and physical changes in the body which stimulate desire.
People are the reverse.
We usually experience desire through eye and the mind first – and t his produce changes in the body.

Human society function because of we- (human, especially women, they are suppose to have a powerful “maternal instinct” that automatically prepares them to parenthood.)

To experience joy, a child needs to feel safe. In the womb, a child is bonded to its mother by umbilical cord, the source of food and life.

After birth, the child needs a sense of feeling safe.

Being with children will drag you up to level whether you want them to or not. They keep alive a part of yourself that could easily die when you reach adulthood. Teachers, neighbors, nurses and social workers all play a role in nurturing children.


Children, cry, they are stubborn, demanding and difficult. They take away our freedom. Or is it us the parents, teachers, and care takers, who are stubborn, demanding, difficult, and take away the freedom of children?
                   
Whether or not you have children yourself, you are parent to the next generation. If we can only stop thinking of children as individual property and think of the next generation, then we can realize we all have a role to play. We are all connected, and everything is connected!

Love matters.

Self confidence matters.

Underneath the surface is a little person with big feelings, growing up, struggling, scared, tender, and brave and desperately wanting your unconditional love and approval.

It is the greatest treasure on earth.

I believe the world will change for the children better as men start taking a more primary role in caring for children. Its humanizing and it will help build common ground between men and women.

Never Ending Struggle

Never Ending Struggle - Perempuan Bukan Lelaki



Never Ending Struggle - Perempuan Bukan Lelaki

AISYAH BAHARUDDIN

LELAKI BUKAN PEREMPUAN

Seorang pelukis terkenal Indonesia pernah berkata,

“Perempuan itu cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis” (Basuki Abdullah 1915 – 1993)

Nah, tampaknya mereka itu (perempuan) yang ‘dikerjakan ‘adalah sebagai subjek , bukannya objek dan lelakilah yang ‘mengerjakan’. Tetapi, walaubagaimanapun akan selalu ada jalan untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Mengikut,

Teori ‘nature’ adalah teori yang mengandaikan bahawa peranan lelaki dan perempuan merupakan peranan yang telah digariskan oleh Alam. Munculnya teori ini boleh dikatakan diilhami oleh sejumlah teori falsafah sejak Era Kuno. Dalam konteks falsafah Yunani Kuno misalnya, dinyatakan bahawa alam dikonseptualisasikan dalam pertentangan kosmik yang kembar. Misalnya; siang -malam, baik-buruk, kesinambungan-perubahan, terbatas-tanpa batas, basah-kering, tunggal-ganda, terang gelap, akal-perasaan, jiwa-raga, lelaki-perempuan dan seterusnya. Dengan demikian ada dua entiti yang selalu berlawanan, yang berada pada titik eksistensial yang ada simetri dan tidak seimbang. Dalam hal ini kumpulan pertama selalu dikonotasikan secara positif dan dikaitkan dengan lelaki, sementara kumpulan kedua berkonotasi negatif yang selalu dikaitkan dengan perempuan.

Philo (35 SM- 45 M) ahli falsafah Yahudi, memperkuatkan lagi teori pemikiran Yunani Kuno dengan menggabungkan idea status kekurangan dan kelemahan perempuan dengan dogma Teologi Yahudi. Iaitu, menganggap perempuan sebagai sumber dari segala kejahatan, dikenali denagn tubuh yang emosi, tidak stabil dan mudah berubah. Manakala lelaki, adalah simbol pemikiran dengan aspek jiwa intelektual yang lebih tinggi. Perempuan adalah ‘Anima’ dan lelaki ‘Situs’.

Cerita Adam dan Hawa misalnya, lebih difahami atau disimbolkan kepada sesuatu realiti kosmik dan bukan diinterpretasikan sebagai mitos atau sejarah. Ini dilihat, Sepertinya tidak ada kekuatan bagi Hawa untuk menahan emosinya daripada dipujuk dan mudah digelincirkan oleh syaitan. Kisah ini memperkuatkan lagi bahawa perempuan secara alamiah mempunyai sifat lebih terbuka kepada kesenangan fizik dengan membuat syaitan berjaya menggodanya.

Maka, lahirlah pemisahan.

Sesungguhmya Konsep pemisahan ini, atau Konsepsi dikhotomi telah mewarnai pola pemikiran falsafah barat sejak Era klasik hingga pemikiran Moden hari ini. Ia telah lahir dari Idea Plato, implikasinya adalah penempatan salah satu oposisi dalam posisi keatas yang lainnya. Seperti, jiwa lebih unggul dari tubuh, rasio dihukumi lebih tinggi dari emosi, idea dianggap lebih beharga dari materi dan seterusnya.

Dengan kolaborasi kekuatan ideologi peradaban Kuno dan Metafizik Barat lahirlah Patriarki, budaya dimana kedudukan lelaki lebih tinggi dari perempuan. Perselingkuhan ini jelas, dengan mendefinasikan perempuan bukan lelaki.

Ideologi Patriarki dan Dikhotomi bersekongkol dan akibatnya, hubungan lelaki dan perempuan merupakan hubungan Dominasi. Dominasi antara satu pihak ketas pihak yang lain, kedudukan superior identiti lelaki iaini Maskulin, Rasional dan publik dianggap lebih berkualilti. Manakala perempuan, Feminin, Emosional dan domestik.

Oleh itu, seharusnya ada gerakan yang menyedarkan bahawa wacana ideologi Patriarki yang mapan ini telah dikonstruksi dan tidak lebih dari buatan tangan manusia dan bahkan Politik mengukuhkannya lagi. Tambahan diperkuatkan lagi dengan institusi sosial dimana kedudukan lelaki sebagai pemimpin dan disokong juga oleh institusi keagamaan. Pandangan tentang perempuan dan lelaki secara tidak langsung telah melekat dan dibentuk oleh masyarakat secara seksis. Pandangan dan konstruk seksis ini telah menyelubungi pola pemikiran baik terhadap perempuan mahupun lelaki.

Realitinya, kondisi masyarakat hari ini tidak memahami dan merasakan bahawa semua ini merupakan produk sosial. Maka, penghapusan seksisme dalam kehidupan harus diperjuangkan untuk menegakkan keadilan gender. Kerana semua prilaku yang menimbulkan segala bentuk ketidakadilan gender seperti Marjinalisasi, Subordinasi, kekerasan, Stereotype, dan peranan berganda bagi perempuan telah berakar dalam ideologi Seksisme dan menjadi tiang yang kuat ideologi Patriarki.

Dalam konteks ini, perlu ditegaskan dalam masyarakat bahawa tidak mengira gender, manusia mempunyai emosi dan sifat yang kuat seperti , tegas, pengasih, percaya diri, cerdik dan sensitif. Jika semua manusia dapat mengenal pasti sifatnya yang sama, maka konsekuensinya menolak pandangan bahawa lelaki tidak seharusnya menagis. Dengan itu untuk megembangkan potensi sifat lelaki yang sama dengan perempuan, perlu ada dorongan kepada mereka untuk berlatih mengekspressikan diri secara alamiah.

Justru, Seni merupakan media yang sangat efektif dalam pertarungan menyuarakan dan menampilkan perjuangan dalam kehidupan yang dialami oleh mereka. Walaupun di mana-mana seantero dunia, permasalahan misteri jurang yang dalam antara seniman lelaki dan perempuan masih belum terungkai, dalam mencari keseimbangan dan keserataan di wilayah ini.